Tampilkan postingan dengan label Kepulauan Riau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepulauan Riau. Tampilkan semua postingan

Benteng Bukit Kursi yang terdapat di Pulau Penyengat, merupakan salah satu bukti peninggalan sejarah Kerajaan Melayu dalam menjaga dan mempertahankan kedaulatan diri dari serangan musuh. Nama benteng tersebut diambil dari nama tempat di mana benteng itu dibangun, yaitu Bukit Kursi. Bukit Kursi merupakan lokasi yang cukup strategis untuk benteng pertahanan. Selain berada pada dataran tinggi di Pulau Penyengat, bukit ini juga langsung menghadap laut lepas.

Mengingat pentingnya peran Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan, maka muncullah ide untuk membangun benteng pertahanan. Ide tersebut disetujui oleh Raja Haji Fisabillah yang saat itu menjabat sebagai Raja Kerajaan Melayu Riau. Sebuah benteng kemudian dibangun di Bukit Kursi dalam waktu 4 tahun atau sekitar tahun 1782—1784 M. Untuk menyempurnakan keberadaan benteng sebagai basis pertahanan kerajaan, maka didatangkan sebanyak 80 meriam dari Eropa yang dipasang di tiap-tiap sudut strategis untuk memudahkan para prajurit kerajaan menghalau tentara musuh.

Berkat Benteng Bukit Kursi ini, istana dan bangunan kerajaan lainnya yang terdapat di dalam kompleks kerajaan bisa terhindar dari serangan musuh dalam waktu yang cukup lama. Bahkan, pernah tercatat dalam sejarah perjuangan Kerajaan Melayu Riau, benteng ini mampu menjadi perisai yang tangguh guna menghalau penjajah Belanda yang akan memasuki Pulau Penyengat. Butuh strategi yang matang dan waktu yang cukup lama bagi Pemerintah Kolonial Belanda menguasai basis kerajaan dan benteng pertahanan tersebut.

Keistimewaan

Desain bangunan benteng ini cukup menarik. Benteng pertahanan yang terletak di atas bukit ini dibangun dalam bentuk parit-parit. Desain ini dibuat untuk menghindari serangan musuh yang datang dalam jumlah besar serta memiliki persenjataan yang lengkap. Di samping itu, parit-parit tersebut juga berfungsi sebagai jalur untuk menyuplai bubuk mesiu bagi persenjataan meriam. Hingga saat ini, parit-parit tersebut masih membentang di Benteng Bukit Kursi. Parit-parit ini digali dengan kedalaman 1 m dan menghubungkan tiap-tiap lokasi meriam berdiri. Tetapi kondisi parit-parit tersebut, sekarang ini kurang terawat dan terkesan kumuh.

Di atas Benteng Bukit Kursi ini, terdapat beberapa peninggalan meriam kuno. Tetapi, jumlah meriam yang terdapat di bukit tersebut jauh berkurang dari jumlah semula yang berjumlah sekitar 90 meriam. Sebagian meriam-meriam tersebut, oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, dijual ke Singapura dengan harga yang cukup murah sebagai barang rongsokan. Sementara itu, sebagian lainnya hilang karena kurangnya pemeliharaan dan perawatan dari pemerintah daerah setempat.

Tak jauh dari Benteng Bukit Kursi, terdapat sebuah bangunan yang pada zaman dahulu dipergunakan untuk menyimpan bubuk mesiu. Oleh masyarakat setempat bangunan ini dinamakan Gedung Obat Bedil (gudang mesiu). Keberadaan gudang mesiu ini erat kaitannya dengan Benteng Bukit Kursi. Ketika pertempuran sedang berkecamuk, gudang ini menjadi penyuplai mesiu untuk senjata meriam guna menghalau musuh. Gedung Obat Bedil hingga sekarang masih berdiri kokoh walau telah berusia cukup lama.

Lokasi

Bentang Bukit Kursi terletak di Pulau Penyengat, Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjung Pinang, Kota Tanjung Pinang, Propinsi Kepulauan Riau, Indonesia.

Akses

Untuk menuju Benteng Bukit Kursi, para wisatawan mesti melintasi laut lepas. Perjalanan dapat dimulai dari Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah menuju Pelabuhan Sri Bintan Pura dengan menggunakan angkutan kota. Kemudian, dari Pelabuhan Sri Bintan Pura perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Penyengat dengan lama perjalanan sekitar 15 menit menggunakan perahu pompong dengan ongkos perjalanan sekitar Rp 5.000. Bagi para pelancong disarankan agar tidak menempuh perjalanan pada sore hari menjelang malam. Karena biaya yang dikeluarkan untuk ongkos perjalanan dari pelabuhan menuju Pulau Penyengat atau sebaliknya bisa naik mencapai 200—300% dari harga normal.

Sementara itu, di Pulau Penyengat para wisatawan dapat menggunakan jasa becak bermotor untuk mengelilingi pulau tersebut. Termasuk menuju Benteng Bukit Kursi. Untuk mendapatkan jasa pelayanan becak bermotor tersebut, para wisatawan cukup membayar uang sebesar Rp 20.000 selama satu jam (November 2008). Para wisatawan tinggal duduk dan menunjukkan daerah tujuan wisata kepada pengemudi yang sekaligus bertindak sebagai pemandu.

Harga Tiket

Untuk masuk ke obyek wisata Benteng Bukit Kursi, tidak dipungut biaya.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Dalam proses konfirmasi

Source : Wisata Melayu

Read More......
Share/Save/Bookmark
Rabu, 17 November 2010 Posted in | | 0 Comments »

Pariwisata di Pulau Bintan terus menggeliat. Pemkab setempat giat mengembangkan keindahan pulau yang terletak 40 km dari Singapura ini menjadi daerah tujuan wisata andalan. Tak hanya wisata bahari, Dinas Pariwisata Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan juga gencar mengembangkan wisata olahraga sebagai daya tarik di pulau terbesar di gugusan pulau yang menghampar di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) ini.

Dalam Visit Bintan Year (VBY) 2010, Pemkab Bintan menargetkan 550 ribu kunjungan wisatawan dan pada 2012 sebanyak 1 juta wisatawan. "Pada 2012, VBY menargetkan satu juta wisatawan mengunjungi pulau ini," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Bintan RM Akib Rachim kepada rombongan Media Fam Trip Kementerian Budaya dan Pariwisata, baru-baru ini.

Target itu tidak muluk-muluk mengingat pendapatan asli daerah (PAD) di sektor pariwisata cukup besar. Menurut data Dinas Pariwisata dan Budaya setempat, pendapatan asli daerah (PAD) Bintan 2009 adalah Rp 132,7 miliar, yang kebanyakan berasal dari pajak hotel, pajak restoran, dan pajak hiburan. Angka ini melampaui target dari yang ditargetkan sebesar Rp 127,95 miliar, atau pencapaiannya sebesar 103,76 persen.

Mendunia

Berwisata ke Pulau Bintan, wisatawan tidak hanya disuguhi keindahan pantai pasir putih eksotis, air laut jernih, aneka batu karang laut di Pantai Lagoi, hutan mangrove dan berbagai olahraga bahari, tetapi juga resor istirahat yang menawan.

Bahkan operator pariwisata Singapura, yang merasa diuntungkan dengan pesatnya Bintan, ikut menjual pulau yang dijuluki "Bumi Segantang Lada" itu ke berbagai penjuru dunia. Di area resor wisata pulau seluas 23 ribu hektare ini setidaknya ada lima resor yang ditawarkan, yakni Mayang Sari, Nirwana Gardens, Bintan Lagoon, Angsana, dan Banyan Tree.

Keelokan dan kebersihan Pantai Lagoi tidak kalah dengan pantai-pantai di Bali. Karena amat tersohornya pantai di Bintan, tokoh-tokoh penting dunia menyempatkan diri berkunjung ke Bintan. Misalnya, yang paling anyar adalah kunjungan Tonny Blair. Mantan Perdana Menteri Inggris ini memilih Pantai Lagoi sebagai tempat berlibur bersama keluarga pada April 2010.

Hanya berselang sekitar tiga minggu sebelum kunjungan Blair, Lagoi juga kedatangan tamu penting lainnya, yakni mantan Sekjen PBB Kofi Annan dan aktor Hollywood Chuck Norris.

Saat rombongan Media Fam Trip yang dipimpin Kasubdit Lembaga Pariwisata dan Widyawisata Ditjen Pemasaran Kemenbudpar Vincentius Jemadu itu mengunjungi Bintan, sejumlah artis dan sutradara ternama Bollywood India tengah melakukan syuting film drama komedi berjudul Behjatry Masula. Mereka mengambil gambar di kawasan wisata internasional Lagoi (Bintan Utara), serta kawasan perbukitan yang masih alami.

Wisata olahraga golf juga sudah mendunia di Bintan karena telah mendapat PATA Gold Award. Para pegolf dunia berbondong-bondong mendatangi pulau ini untuk mencoba lapangan golf yang merupakan lima terbaik di Asia. "Bahkan ada olok-olok, pegolf Indonesia belum disebut golfer kalau belum menjajal lapangan di sini," kata Akib.

Program olahraga andalan untuk mendongkrak VBY 2010 lainnya yaitu Tour de Bintan. Sekitar 300 pembalap sepeda dari berbagai negara dan Indonesia bakal berlaga pada lomba balap sepeda pada 15-17 Oktober 2010. Peserta yang sudah konfirmasi untuk bertarung yakni dari Selandia Baru, Australia, Singapura, Inggris, Amerika, China, Korea, Jepang, Thailand, Filipina, dan Malaysia.

Tour de Bintan digelar untuk kedua kalinya. Dibanding tahun lalu yang diikuti 100 peserta dari sembilan negara, kata Akib, kegiatan sekarang lebih menantang. Pasalnya, rute yang dilalui lebih panjang (dari 266 km ditambah jadi 300 km) yang merupakan perpaduan pantai, bukit, dan hutan. Meski baru pertama digelar, Tour de Bintan sudah mendapat kepercayaan dari United Cycling International (UCI) atau Badan Balap Sepeda Dunia. "Kami harapkan, tahun ini Tour de Bintan bisa ditetapkan menjadi kalender tahunan balap sepeda internasional, seperti halnya Tour de Singkarak," kata Akib.

Wisata Sejarah

Selain wisata Bahari, Pemprov Kepri juga giat mempekenalkan wisata sejarah. Pasalnya, daerah ini sangat terkenal pada abad ke-18 pada saat kejayaan Kerajaan Melayu. Salah satu objek wisata sejarah yang terkenal yaitu di Pulau Penyengat, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

Pulau seluas 240 hektare dengan panjang dua kilometer dan lebar kurang dari satu kilometer itu memiliki aneka situs peninggalan sejarah Melayu abad ke-18, yang sampai kini masih tetap lestari. Misalnya, masjid dengan arsitektur yang menarik, sebuah benteng kuno untuk memantau lalu lintas perahu, Kompleks Makam Raja Kerajaan Riau-Lingga. Juga, ada rumah akar pohon bekas praktik tabib kerajaan, balai pertemuan adat, puing-puing bekas pagar pembatas kerajaan. Situs peninggalan sejarah ini sebagai bukti Indonesia pernah mengalami kejayaan pada masa lalu.

Untuk pergi ke Pulau Penyengat, juga tidak susah. Pulau ini berdekatan dengan Pulau Bintan, tapi masuk wilayah Tanjung Pinang. Untuk mencapai pulau tersebut dari Tanjung Pinang, cukup naik perahu kelotok atau populer disebut pompom dari Pelabuhan Kuning, Tanjung Pinang, dengan membayar Rp 5.000. Wisatawan dari Batam harus menyebrang ke Pelabuhan Sri Intan, Tanjung Pinang dulu baru melanjutkan ke Pulau Penyengat.



Source : Wisata Melayu

Read More......
Share/Save/Bookmark
Kamis, 21 Oktober 2010 Posted in | | 0 Comments »

Berwisata ke Pulau Bintan, Propinsi Kepulauan Riau terasa kurang lengkap sebelum mengunjungi Gunung Bintan. Satu-satunya gunung yang berada di Pulau Bintan ini sebenarnya lebih mirip sebuah bukit, karena ketinggiannya hanya sekitar 400 meter di atas permukaan laut. Ketinggian gunung ini mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan gunung-gunung yang ada di Pulau Jawa, namun Gunung Bintan mempunyai peran penting bagi masyarakat setempat, yaitu sebagai daya tarik kunjungan wisata dan area resapan air (catchment area).

Gunung yang terletak di tengah-tengah Pulau Bintan dan berjarak sekitar 55km dari Kota Tanjung Pinang (Ibukota Propinsi Kepulauan Riau) ini juga merupakan kawasan hutan lindung yang di dalamnya terdapat ekosistem khas hutan hujan tropis yang masih terjaga keasliannya, baik aspek flora maupun faunanya.


Keistimewaan


Pengunjung akan mendapati banyak hal menarik selama mendaki gunung ini. Gunung yang puncaknya dapat dicapai dalam waktu dua jam dengan berjalan kaki ini menyimpan keindahan panorama alam yang mempesona. Dari puncak gunung, pengunjung dapat menikmati keindahan pemandangan di sekeliling Pulau Bintan.

Sebagai kawasan hutan hujan tropis, Gunung Bintan juga menyimpan kekayaan flora dan fauna yang khas. Pengunjung dapat melihat berbagai jenis tumbuhan tropis dan pohon-pohon raksasa yang berfungsi sebagai penyangga (buffer) kawasan hutan dari ancaman erosi. Di kawasan yang juga berfungsi sebagai area resapan ini juga hidup aneka satwa seperti monyet, tupai, ular, pelanduk, berbagai jenis burung, dan sebagainya.

Setelah puas menyisir keindahan alam dari puncak gunung, pengunjung dapat melengkapi perjalanan wisatanya menuju sebuah air terjun yang terletak di kaki gunung. Tempat ini sering digunakan oleh para pengunjung sebagai tempat singgah setelah lelah menyusuri kawasan wisata ini. Tak jarang diantara mereka memanfaatkan air terjun ini sebagai tempat mandi karena kesejukannya dianggap dapat menghilangkan rasa lelah.

Kawasan di kaki gunung juga dimanfaatkan penduduk setempat sebagai lahan pertanian mereka. Di tempat ini banyak terdapat kebun buah penduduk, seperti durian, rambutan, manggis, duku, dan lain-lain. Jika wisatawan berkunjung tepat pada saat musim buah, wisatawan dapat membeli buah langsung dari petaninya, tentu saja dengan harga yang lebih murah. Selain itu, rasanya juga lebih enak dan segar karena langsung dipetik dari pohonnya.

Bagi wisatawan yang tertarik dengan acara-acara khas pariwisata, sempatkanlah bertandang ke Gunung Bintan pada bulan Juli. Pada setiap bulan ini diselenggarakan acara tahunan yang bertajuk "Bintan Mountain Tracking and Durian Party". Acara ini berupa perlombaan menyusuri jalan berundak menuju puncak gunung pada malam hari yang kemudian diakhiri dengan pesta makan durian dan ikan bakar. Acara yang telah dimasukkan ke dalam kalender wisata Pemerintah Kabupaten Bintan ini selalu belangsung meriah karena diikuti tidak hanya oleh wisatawan lokal, tetapi juga oleh turis mancanegara.


Lokasi

Gunung Bintan terletak di Kampung Bekapur, Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Propinsi Kepulauan Riau, Indonesia.


Akses

Untuk menuju Pulau Bintan, wisatawan biasanya harus transit terlebih dahulu di Pulau Batam, karena Batam telah menjadi semacam pintu masuk menuju Pulau Bintan. Akses menuju Batam terbilang mudah karena setiap hari terdapat rute penerbangan dari kota-kota besar di Indonesia menuju Kota Batam. Dari negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia, akses menuju Batam malah lebih mudah, cukup naik kapal feri satu kali.

Dari Kota Batam, perjalanan ke Bintan terlebih dahulu harus melewati pelabuhan penyeberangan Telaga Punggur, menggunakan taksi dengan biaya antara Rp 60.000-Rp 65.000. Sesampainya di pelabuhan Telaga Punggur, pengunjung dapat menyeberang ke Pulau Bintan dengan menggunakan kapal feri menuju Kota Tanjung Pinang, kota yang ditetapkan sebagai ibu kota Propinsi Kepulauan Riau. Sarana angkutan penyeberangan Telaga Punggur-Tanjung Pinang beroperasi setiap hari, mulai dari jam 7:30 pagi hingga jam 8 malam, begitu juga sebaliknya. Wisatawan dapat memilih feri yang berukuran agak besar, atau memilih menggunakan speed boat yang berukuran lebih kecil. Pengelola jasa transportasi ini juga fleksibel dalam menentukan tarif. Pengunjung dapat membeli tiket untuk sekali jalan sebesar Rp 35.000 per orang, atau sekaligus tiket pulang pergi sebesar Rp 60.000 (November 2008). Selain itu, tiket yang sudah dibeli juga berlaku kapan saja, asalkan tidak lebih dari satu bulan.

Sesampainya di Tanjung Pinang, perjalanan sekitar 55 km menuju Gunung Bintan dapat ditempuh dengan menggunakan taksi atau mobil sewaan. Letak Gunung Bintan yang tepat di tengah-tengah Pulau Bintan didukung dengan kondisi jalan yang sudah baik, membuat perjalanan menuju ke gunung ini terasa mudah.


Harga Tiket

Pengunjung tidak dipungut biaya untuk mendaki Gunung Bintan, namun apabila pengunjung ingin menghadiri acara durian party yang diadakan setahun sekali pada bulan Juli, maka pengunjung harus membayar tiket dengan harga Rp 20.000 (April 2009).


Akomodasi dan Fasilitas Lainnya


Pemerintah Kabupaten Bintan telah melengkapi obyek wisata Gunung Bintan dengan beberapa fasilitas seperti lahan parkir, jalan setapak menuju lokasi air terjun, tempat pemandian, warung makan, dan tempat peristirahatan. Namun, jika wisatawan membutuhkan fasilitas dan sarana akomodasi yang lebih lengkap, tempat terdekat untuk memperolehnya adalah di Kota Tanjung Pinang.

Sebagai ibukota Propinsi Kepulauan Riau, Kota Tanjung Pinang menyediakan fasilitas-fasilitas seperti hotel (baik kelas melati maupun berbintang), pusat perbelanjaan, sarana perbankan, restoran, sarana peribadahan, biro perjalanan wisata, salon kecantikan, dan lain-lain.

Source : Wisata Melayu

Read More......
Share/Save/Bookmark
Selasa, 04 Agustus 2009 Posted in | | 0 Comments »

Jika Jakarta punya Monas, Maka Batam punya Jembatan Barelang. Jembatan inilah yang digunakan oleh Pemerintah Kota Batam sebagai simbol kota tersebut dan juga ikon program Visit Batam 2010. Jembatan yang dibangun pada tahun 1992 dan selesai pada tahun 1998 ini dibangun atas prakarsa BJ Habibie, yang kala itu menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi, dan menelan biaya lebih dari Rp 400 miliar. Karena itulah, oleh masyarakat Kota Batam jembatan ini juga kerap disebut dengan Jembatan Habibie.

Jembatan Barelang dibuat untuk menghubungkan tiga pulau besar dan beberapa pulau kecil yang termasuk dalam Propinsi Kepulauan Riau. Nama Barelang sendiri merupakan akronim dari nama tiga pulau besar yang dihubungkan oleh jembatan ini, yakni Pulau Batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang.

Jembatan sepanjang 2.264 m ini terdiri dari rangkaian enam jembatan. Masing-masing diberi nama raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Melayu Riau pada abad 15-18 masehi. Jembatan pertama dari rangkaian enam jembatan ini diberi nama Jembatan Tengku Raja Haji Fisabilillah. Jembatan sepanjang 642 m ini menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Tonton. Jembatan kedua diberi nama Jembatan Narasinga. Jembatan ini menghubungkan Pulau Tonton dengan Pulau Nipah dengan panjang 420 m. Jembatan ketiga adalah jembatan Raja Ali Haji yang menghubungkan Pulau Nipah dengan Pulau Setokok dan memiliki panjang 270 m. Pulau Tonton, Nipah dan Setokok merupakan pulau-pulau kecil yang masuk dalam gugusan Kepulauan Batam.

Jembatan keempat adalah Jembatan Sultan Zainal Abidin. Jembatan sepanjang 365 m ini menghubungkan Pulau Setokok dengan Pulau Rempang. Selanjutnya, jembatan kelima adalah Jembatan Tuanku Tambusai dengan panjang 365 m. Jembatan ini menghubungkan Pulau Rempang dengan Pulau Galang. Jembatan terakhir dinamai Jembatan Raja Kecil yang menghubungkan Pulau Galang dengan Pulau Galang Baru. Jembatan ini merupakan jembatan terpendek dari lima jembatan lainnya, panjangnya hanya 180 m.


Keistimewaan

Oleh masyarakat Batam, Jembatan Barelang ini tidak hanya difungsikan untuk menghubungkan beberapa pulau saja, namun juga digunakan untuk bersantai dan melepas lelah. Maka tak heran jika pada akhir pekan ataupun hari libur, suasana ramai dapat ditemui di jembatan ini. Banyak orang yang duduk santai sambil menikmati pemandangan laut dari atas jembatan atau memancing ikan. Selain itu, jembatan ini juga turut menarik wisatawan dari luar Batam karena bentuknya yang megah menyerupai Golden Gate yang ada di San Fransisco, Amerika Serikat.

Jembatan Tengku Raja Haji Fisabilillah merupakan jembatan yang paling terkenal dibanding lima jembatan lainnya karena menggunakan konstruksi cable stayed. Kabel-kabel baja besar digunakan sebagai pengikat jembatan. Ujung-ujung kabel terikat di tepi jalan dengan jarak tertentu, lalu ujung lainnya terkumpul pada satu titik di atas puncak tonggak beton setinggi 200 m. Dari kejauhan, bentuk jembatan ini akan tampak seperti jaring raksasa berbentuk segitiga. Namun, katika semakin mendekat, bentuk jembatan ini akan mengingatkan pengunjung pada Golden Gate. Berdiri di jembatan ini, dan menghadap ke arah jembatan kedua, pengunjung dapat melihat pemandangan yang indah berupa hamparan laut dan juga pulau-pulau kecil yang ada di sekitar kedua pulau ini.

Jika wisatawan ingin berfoto dengan latar belakang Golden Gate ala Batam, maka lanjutkanlah perjalanan ke Jembatan Narasinga karena dari sini menjadi tempat paling cocok untuk berfoto dengan latar belakang jembatan pertama tersebut. Selain itu dari jembatan ini pula pengunjung dapat melihat sebuah pulau yang sangat kecil tidak berpenghuni dan hanya terdiri dari bebatuan yang mulai terkikis air laut.

Selain jembatan pertama, jembatan yang juga terkenal adalah jembatan keenam, Jembatan Raja Kecil. Jembatan ini dikenal karena nilai sejarah dari pulau yang dihubungkannya. Di Pulau Galang ini pernah dijadikan tempat penampungan 250.000 pengungsi dari Vietnam pada tahun 1975-1996. Bekas tempat pengungsian yang berada di Desa Sijantung, Kecamatan Galang ini masih menyisakan benda-benda maupun bangunan-bangunan peninggalan para pengungsi seperti gereja, pagoda, vihara, kuburan massal ataupun bekas perahu-perahu kayu. Jadi, setelah melewati keseluruhan rangkaian Jembatan Barelang ini maka setiba di Pulau Galang, pengunjung dapat melihat sisa-sisa peninggalan bersejarah dari kamp pengungsian tersebut.


Lokasi

Jembatan Barelang terletak sekitar 20 km dari pusat Kota Batam, Propinsi Kepulauan Riau, Indonesia.


Akses

Agar dapat lebih menikmati perjalanan di jembatan ini, pengunjung disarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi. Namun jika tidak memiliki kendaraan pribadi, Anda dapat menggunakan Metro trans (angkutan umum Kota Batam) dengan tarif antara Rp 3.000-Rp 5.000 atau pengunjung juga dapat menyewa taksi yang banyak melintas di sekitar jembatan. Biaya sewa taksi memang akan lebih mahal daripada bus, namun pengunjung bisa lebih santai untuk menikmati perjalanan ini.


Harga Tiket

Untuk berjalan-jalan di sepanjang jembatan ini, pengunjung tidak dipungut biaya apapun.


Akomodasi dan Fasilitas Lainnya


Di kedua ujung jembatan pertama terdapat banyak warung yang menyediakan aneka makanan dana minuman. Jadi, jika merasa lelah para pengunjung dapat beristirahat sejenak di warung-warung ini. Di akhir pekan ataupun hari-hari libur, di sepanjang jembatan ini akan banyak ditemui pedagang kaki lima yang menjajakan beragam jenis minuman dan makanan seperti es kelapa muda, jagung bakar dan peyek udang. Selain itu, ada juga penjual bensin eceran dan juga tukang tambal ban dadakan. Siapa tahu dalam menyusuri jembatan, pengunjung kehabisan bensin.

Source : Wisata Melayu

Read More......
Share/Save/Bookmark
Senin, 03 Agustus 2009 Posted in | | 0 Comments »

Bila Anda berkunjung ke Propinsi Kepulauan Riau, sempatkanlah bertamasya ke Kabupaten Lingga. Sebab, selain menyimpan situs-situs dan benda-benda bersejarah yang berusia ratusan tahun, kabupaten yang dijuluki Bunda Tanah Melayu ini juga memiliki berbagai tujuan wisata alam yang membuat para turis berdecak kagum ketika melihatnya. Salah satunya adalah Gunung Daik.

Menyebut Gunung Daik, seseorang akan terkenang dengan sebuah pantun yang sangat familiar, terutama pada masyarakat rumpun Melayu : Pulau Pandan di tengah, Gunung Daik bercabang tiga, hancur badan dikandung tanah, budi baik dikenang juga. Cabang gunung yang paling tinggi disebut Gunung Daik, yang menengah dinamakan Gunung Pejantan atau Gunung Pinjam-pinjaman, dan yang paling rendah dinamakan Gunung Cindai Menangis.

Masyarakat setempat mempercayai Gunung Daik dihuni oleh makhluk halus bernama "bunian". Sedangkan para nelayan yang berada di sekitar gunung itu meyakini bahwa arwah nenek moyang mereka, yakni Datuk Kemuning dan istrinya, bersemayam di gunung tersebut. Konon, nama Lingga yang berasal dari akar kata Ling (Naga) dan Ge (gigi), terilhami oleh bentuk puncak Gunung Daik yang mirip dengan gigi naga.

Keberadaan gunung ini kian populer berkat sebuah pabrik sagu dari Kabupaten tersebut yang menjadikan Gunung Daik sebagai merek dagangnya, yaitu Sagu Cap Gunung Daik. Merek tersebut merupakan jaminan sagu berkualitas yang dari dahulu hingga sekarang banyak dikirim ke berbagai daerah, seperti Cirebon, Surabaya dan kota-kota lainnya. Melalui merek tersebut, perlahan-lahan Gunung Daik ikut dikenal oleh masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.


Keistimewaan

Penuh mistis tapi eksotis. Menakutkan namun mempesona. Begitulah kira-kira kesan pelancong ketika mengunjungi Gunung Daik, gunung tertinggi di Propinsi Kepulauan Riau yang memiliki ketinggian sekitar 1.165 meter di atas permukaan laut (mdpl). Meskipun rute menuju gunung tersebut penuh tantangan, namun semuanya akan terbayarkan begitu memasuki kawasan hutannya yang berhawa sejuk. Kontur medan yang beragam dengan jalan setapak yang berliku-liku, mengakomodir keinginan wisatawan yang menyukai olahraga lintas alam, menyusuri lembah, memotret, berkemah dan off road.

Sepanjang perjalanan, wisatawan akan terpesona melihat kawasan hutan yang masih perawan dengan aneka pohon besar dan kecil yang berdaun rimbun dan hijau. Di kawasan hutan ini dapat ditemukan dengan mudah berbagai jenis tumbuhan, seperti pohon cucuk atap, cantiqi, pakis hutan (diplazum esculentum/faco fem), getah merah (gutta perca/isonandra gutta), pohon aren (arenga pinnata merr) dan aneka jenis buah-buahan. Burung Murai Batu (copsychus malabaricus), beo (gracula religiosa), ular piton (python molurus), ular kobra (ophiophagus hannah) dan babi hutan (sus scrofa) adalah binatang-binatang langka yang masih dapat dijumpai di kawasan hutan Gunung Daik.

Sebelum sampai di kaki gunung terdapat sebuah sungai kecil dan air terjun bernama Air Terjun Daik. Biasanya kawasan air terjun ini digunakan oleh pelancong sebagai tempat beristirahat, selain Pos Gajeboh I dan Pos Gajeboh II. Suara gemericik air terjun yang jatuh di atas batu-batu kali dapat mengobati rasa penat selama menempuh perjalanan. Untuk melepas gerah, pelancong juga memanfaatkan air terjun yang berair jernih ini untuk mencuci muka dan mandi.

Sesampainya di Kaki Puncak Daik, batas akhir perjalanan, pelancong akan terkesima melihat gunung nan eksotis dan penuh mistis tersebut. Biasanya kawasan ini merupakan tempat favorit pelancong untuk berkemah. Pada sore hari bila cuaca sedang cerah, pelancong akan berdecak kagum melihat matahari terbenam. Pada pagi hari bila cuaca sedang cerah, pelancong juga akan terpesona melihat indahnya matahari terbit.


Lokasi

Secara administratif, Gunung Daik masuk dalam wilayah Kabupaten Lingga, Propinsi Kepulauan Riau, Indonesia.


Akses

Bagi wisatawan yang berada di Kota Tanjung Pinang, ibu kota Propinsi Kepulauan Riau, dapat menuju Gunung Daik dengan naik kapal feri dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjung Pinang menuju Pelabuhan Mepar/Dabo di Pulau Singkep dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Dari Pelabuhan Mepar, wisatawan dapat naik kapal kecil (pompong) sekitar 10 menit menuju Pelabuhan Daik, Pulau Lingga. Setelah sampai di Daik, ibu kota Kabupaten Lingga, perjalanan dilanjutkan dengan naik ojek menuju pintu gerbang Gunung Daik. Kemudian wisatawan melanjutkan perjalanan menuju Gunung Daik dengan berjalan kaki. Perjalanan akan berakhir di Kaki Puncak Daik, yang oleh masyarakat setempat diberi nama "Kandang Babi", yaitu sebuah lokasi yang berada di ketinggian 1.000 meter di aats permukaan laut (mdpl). Puncak Gunung Daik sendiri tidak bisa didaki karena puncaknya terdiri dari bebatuan yang rapuh dan tebing yang curam.


Harga Tiket

Wisatawan yang berkunjung ke Gunung Daik tidak dipungut biaya.


Akomodasi dan Fasilitas

Sebelum melakukan perjalanan menuju Gunung Daik, turis dianjurkan untuk melapor pada petugas dinas pariwisata setempat. Hal ini penting untuk memudahkan pemantauan dan koordinasi. Sebagai penunjuk jalan, turis dapat menggunakan jasa pemandu wisata (guide), baik dari dinas wisata setempat maupun masyarakat yang tinggal di sekitar gunung tersebut.

Turis disarankan untuk menyiapkan segala kebutuhan selama berada di kawasan wisata ini seperti makanan, minuman, tenda, baju hangat, senter, korek api, dan lain sebagainya. Sebab, di sepanjang jalan menuju gunung penuh mistis tersebut tidak tersedia warung.

Sedangkan untuk akomodasi dan fasilitas yang lumayan lengkap dapat diperoleh pelancong di kota Daik. Di ibu kota Kabupaten Lingga ini terdapat pasar, toko kelontong, warung nasi, serta hotel dan wisma dengan berbagai tipe.

Source : Wisata Melayu

Read More......
Share/Save/Bookmark
Posted in | | 0 Comments »