Tampilkan postingan dengan label Sumatera Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumatera Barat. Tampilkan semua postingan

Lubang Jepang (Goa Jepang)/terowongan (bungker) dibangun pada tahun 1942 oleh tentara Jepang untuk benteng pertahanan pada masa perang dunia ke II dan perang Asia Timur Raya. Pembangunan terowongan tersebut dilakukan atas instruksi langsung dari pemerintahan militer Angkatan Darat Jepang untuk wilayah Sumatera yang berkedudukan di Bukittinggi di bawah pimpinan Jenderal Watanabe. Untuk melakukan pembangunan, tentara Jepang memanfaatkan tenaga masyarakat Indonesia yang didatangkan dari beberapa daerah di luar Sumatera, seperti : Sulawesi, Kalimantan dan Jawa. Mereka bekerja siang malam, sehingga pembangunan terowongan tersebut dapat diselesaikan dengan cepat.

Lubang Jepang ditemukan oleh masyarakat setempat pada tahun 1946 dengan kondisi yang mencekam. Banyak tulang belulang manusia yang berserakan di lantai sepanjang lorong terowongan. Pada tahun tersebut pemerintah Kota Bukittinggi mengubur tulang belulang yang berserakan itu dan membersihkan terowongan. Kemudian pemerintah kota menata terowongan itu untuk dipersiapkan menjadi salah satu objek wisata sejarah di Kota Bukittingi dengan menambah beberapa sarana pendukung. Peresmian Lubang Jepang dilakukan oleh Menteri Kebudayaan ketika itu, Fuad Hasan, pada tanggal 11 Maret 1986.

Pada tahun 2004 pemerintah Kota Bukittinggi merenovasi Lubang Jepang dengan memperkokoh dinding lubang dengan semen. Renovasi ini bertujuan untuk memberikan kenyamanan bagi para wisatawan.


Keistimewaan

Lobang Jepang memiliki panjang sekitar 1.400 m (sekarang 725 m karena sebagian ditutup pada tahun 2004), lebar 2 m, tinggi sekitar 3 m. Sementara itu, untuk masuk dan keluar terowongan terdapat 3 pintu utama dan 6 pintu darurat. 3 pintu utama terdapat di Jalan Ngarai Sianok, di dalam Taman Panorama dan di samping Istana Bung Hatta (Gedung Triarga). Untuk saat ini hanya satu pintu yang digunakan untuk umum, yaitu pintu yang terdapat di Taman Panorama, sedangkan 2 pintu utama dan 6 pintu darurat ditutup.

Di dalam Lubang Jepang terdapat beberapa lorong yang bercabang-cabang, seperti : tempat rapat, tempat makan, kamar tidur, barak militer dan ruang tahanan. Terdapat 12 ruangan untuk amunisi; 2 ruangan untuk tempat makan romusha dan 1 ruangan untuk tempat bersidang. Ruang-ruang tersebut sampai sekarang masih terawat dengan baik dan bisa dikunjungi oleh para wisatawan.

Di dalam Lubang Jepang masih dapat dijumpai berbagai peralatan peninggalan Jepang yang dahulu digunakan untuk menyiksa para tawanan. Peralatan tersebut tersimpan di salah satu lorong yang diperkirakan sebagai tempat penyiksaan.

Setelah paa wisatawan selesai berkeliling di dalam Lubang Jepang, dapat melepaskan lelah sembari duduk-duduk di objek wisata Taman Panorama dengan melihat keindahan pemandangan alam Ngarai Sianok yang membentang dan terhampar luas di depan mata. Kebetulan, Lubang Jepang berada dalam satu lokasi yang sama dengan objek wisata Taman Panorama Kota Bukittinggi.


Lokasi


Lubang Jepang terletak di Bukit Sianok, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia.


Akses

Untuk mencapai lokasi ini dari Kota Padang ke Bukittinggi, perjalanan dapa ditempuh selama lebih kurang 2 jam dengan menggunakan angkutan umum, dengan ongkos sekitar Rp 15.000-Rp 20.000 per orang (Maret 2008). Setelah sampai di kota Bukittinggi, perjalanan bisa dilanjutkan dengan menggunakan angkutan kota ke lokasi Lobang Jepang.


Tiket

Harga tiket masuk sebesar Rp 5.000 untuk anak-anak dan Rp 8.000 untuk orang dewasa (Maret 2008).


Akomodasi

Berhubung lokasi Lubang Jepang berada di tengah Kota Bukittinggi, maka para wisatawan dari luar kawasan kota yang ingin bermalam dapat menginap di hotel-hotel yang ada di kawasan kota. Untuk makanan, para wisatawan dimanjakan oleh berbagai masakan Padang. Bagi yang telah selesai mengunjungi Lubang Jepang dapat melakukan wisata belanja di Pasar Atas.

Source : Wisata Melayu

Read More......
Share/Save/Bookmark
Minggu, 02 Agustus 2009 Posted in | | 0 Comments »

Benteng Fort de Kock (Sterreschans) didirikan oleh Kapten Bouer pada tahun 1825. Benteng ini berfungsi sebagai benteng pertahanan pemerintah Hindia Belanda untuk menghalau perlawanan pasukan Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol (1821-1827).

Ketika itu, Baron Hendrick Markus de Kock menjadi Komandan de Roepoen dan wakil Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda (Indonesia). Untuk mengenang nama wakil gubernur jenderal tersebut, Kapten Bouer memberi nama lokasi tempat benteng berdiri dengan Fort de Kock.

Sementara nama benteng yang berada di lokasi tersebut diberi nama Sterreschans (Benteng Pelindung). Setelah Indonesia merdeka, nama Benteng Sterreschans tidak pernah diucapkan lagi, nama benteng kemudian diambil dari lokasi tempat benteng tersebut dibangun. Sedangkan nama lokasi yang semula bernama Fort de Kock kembali berubah menjadi Bukit Jirek sesuai dengan nama asli sebelum penjajahan Belanda.

Mengingat usia benteng yang sudah begitu lama, para pengunjung tidak diizinkan untuk naik lagi hingga ke atas Benteng Fort de Kock (Sterreschans). Sehingga para pengunjung hanya bisa melihat dan mengunjungi benteng dari bawah, tidak dapat melihat keseluruhan bangunan dan pemandangan Kota Bukittinggi dari atas benteng.


Keistimewaan

Di sekeliling Benteng Fort de Kock, terdapat beberapa koleksi meriam kuno peninggalan Belanda. Dari benteng ini, para wisatawan juga bisa melihat sajian keindahan panorama alam Kota Bukittinggi yang terhampar luas sepanjang mata memandang.

Jika kita menengok ke samping tempat benteng itu berada, maka akan terlihat sebuah jembatan (Jembatan Limpapeh) yang menghubungkan benteng dengan objek wisata Taman Marga Satwa (Kebun Binatang). Para wisatawan bisa melintasi jembatan tersebut sembari melihat keindahan Kota Bukittinggi dari atas jembatan yang berada di atas ketinggian 100 meter.


Lokasi


Benteng Fort de Kock berada di atas Bukit Jirek, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia.


Akses


Untuk mencapai lokasi ini para wisatawan dapat menggunakan jalur darat. Dari Kota Padang ke Bukittinggi, perjalanan dapat ditempuh selama lebih kurang 2 jam dengan menggunakan angkutan umum yang ongkosnya Rp 15.000-Rp 20.000 per orang (Februari 2008). Setelah sampai di Kota Bukittinggi perjalanan bisa dilanjutkan dengan menggunakan angkutan kota ke lokasi Benteng Fort de Kock.


Tiket

Untuk masuk lokasi Benteng Fort de Kock para wisatawan dikenakan tiket sebesar Rp 8.000 per orang (Februari 2008). Harga tiket ini sudah termasuk tiket masuk objek wisata Taman Margasatwa Kinantan.


Akomodasi


Tidak jauh dari lokasi Benteng terdapat beberapa hotel yang nyaman sebagai tempat menginap. Pilihan hotel tergantung dengan selera wisatawan. Jika wisatawan menginginkan penginapan yang mewah maka di sana tersedia hotel berbintang, tetapi jika hanya menginginkan hotel yang standar maka di sana juga tersedia. Untuk makanan, para wisatawan dimanjakan oleh berbagai masakan Padang. Nasi Kapau masih menjadi pilihan menu yang menarik jika Anda mengunjungi Bukittinggi yang dapat dibeli di Pasar Lereng (di samping Pasar Atas).

Source : Wisata Melayu

Read More......
Share/Save/Bookmark
Sabtu, 01 Agustus 2009 Posted in | | 0 Comments »

Ngarai Sianok adalah sebuah lembah curam (jurang) yang terletak di jantung Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Lembah ini memanjang dan berkelok dari selatan Ngarai Koto Gadang sampai ke Ngarai Sianok Enam Suku, dan berakhir di Palupuh.

Jurang ngarai dalamnya sekitar 100 m yang membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 m dan merupakan bagian dari patahan yang memisahkan satu wilayah menjadi dua bagian (Patahan Semangko). Patahan ini membentuk dinding yang curam, bahkan tegak lurus dan membentuk lembah yang hijau hasil dari gerakan turun kulit bumi (sinklinal).


Keistimewaan

Kendati sebagian dindingnya pernah runtuh akibat gempa pada tahun 2007, Ngarai Sianok masih tetap menarik dan tidak kehilangan daya eksotiknya. Bahkan pada tahun itu juga, Ngarai Sianok ditetapkan sebagai best tourism object (objek wisata terbaik) pada penghargaan Padang Tourism Award (PTA) 2007 di Padang.

Dilembah Ngarai Sianok mengalir sungai Sianok yang cukup jernih. Sungai tersebut bisa dimanfaatkan untuk kegiatan olah raga seperti kano, arung jeram dan kayak. Sungai ini bermuara di Samudera Hindia.

Di tepian sungai masih banyak dijumpai tumbuhan langka seperti bunga Raflesia dan tumbuhan obat-obatan. Sedangkan di dalam hutan di lembah ngarai terdapat beberapa fauna liar yang masih bisa ditemui seperti monyet ekor panjang, siamang, simpai, rusa, babi hutan, macan tutul dan tapir.


Lokasi

Ngarai Sianok terletak di Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Indonesia.


Akses

Untuk mencapai lokasi ini para wisatawan dapat menggunakan jalur darat. Dari Kota Padang ke Bukittinggi, perjalanan dapat ditempuh selama lebih kurang 2 jam perjalanan dengan menggunakan angkutan umum, dengan ongkos antara Rp 15.000-Rp 20.000 per orang (Februari 2008). Setelah sampai di Kota Bukittinggi, perjalanan bisa dilanjutkan dengan menggunakan angkutan kota ke lokasi Ngarai Sianok. Untuk mengantisipasi supaya tidak berganti-ganti mobil, para wisatawan dianjurkan untuk menggunakan jasa travel, mobil pribadi atau mobil sewaan yang bisa langsung menuju ke objek wisata.


Akomodasi

Ngarai Sianok terletak di tengah Kota Bukittinggi. Di kota ini terdapat hotel yang nyaman untuk tempat menginap bagi para wisatawan yang datang dari luar kota. Jenis hotel bervariasi mulai dari tarif murah hingga sangat mahal. Untuk masalah makanan para wisatawan dimanjakan oleh berbagai aneka masakan Padang. Nasi Kapau menjadi salah satu menu yang menarik untuk dicoba yang berada di Pasar Lereng (di samping Pasar Atas).

Source : Wisata Melayu

Read More......
Share/Save/Bookmark
Posted in | | 0 Comments »

Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh. Peletakkan batu pertama pembangunannya dilakukan oleh putra pertama Rook Maker (Controleur/Sekretaris Kota) yang saat itu masih berumur 6 tahun. Jam ini dibangun sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur Bukittinggi.

Keistimewaan

Simbol khas Bukittinggi dan Sumatera Barat ini memiliki cerita dan keunikan dalam perjalanan sejarahnya. Hal tersebut dapat ditelusuri dari ornamen pada Jam Gadang. Pada masa penjajahan Belanda, ornamen jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan. Sedangkan pada masa penjajahan Jepang, ornamen jam berubah menjadi klenteng. Sedangkan pada masa setelah kemerdekaan, bentuk ornamennya kembali berubah dengan bentuk gonjong rumah adat Minangkabau.

Angka-angka pada jam tersebut juga memiliki keunikan. Angka empat pada angka Romawi biasanya ditulis dengan IV, namun di Jam Gadang tertera dengan IIII.

Dari menara Jam Gadang, para wisatawan bisa melihat panorama Kota Bukittinggi yang terdiri dari bukit, lembah dan bangunan berjejer di tengah kota yang sayang untuk dilewatkan.


Lokasi


Jam Gadang terletak di depan Pasar Atas, Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia.


Akses


Untuk mencapai ke lokasi ini, para wisatawan dapat menggunakan jalur darat. Dari Kota Padang ke Bukittinggi, perjalanan dapat ditempuh selama lebih kurang 2 jam perjalanan menggunakan angkutan umum, dengan ongkos sekitar Rp 15.000-Rp 20.000 per orang (Februari 2008). Setelah sampai di Kota Bukittinggi, perjalanan bisa dilanjutkan dengan menggunakan angkutan kota ke lokasi Jam Gadang.


Tiket

Dengan biaya sebesar Rp 3.000 (Februari 2008) para wisatawan bisa menikmati dan naik ke atas bangunan setinggi 26 meter tersebut.


Akomodasi

Berhubung lokasi Jam Gadang berada di tengah Kota Bukittinggi, maka para wisatawan dari luar kawasan kota yang ingin berlama-lama dapat menginap di hotel-hotel yang ada di kawasan kota. Untuk masalah makanan, para wisatawan dimanjakan oleh berbagai aneka masakan Padang. Nasi Kapau menjadi salah satu menu yang menarik untuk dicoba yang berada di Pasar Lereng (di samping Pasar Atas) Bukittinggi. Bagi yang telah selesai mengunjungi Jam Gadang dapat melakukan wisata belanja di Pasar Atas dengan membeli oleh-oleh untuk sanak saudara.

Source : Wisata Melayu

Read More......
Share/Save/Bookmark
Posted in | | 0 Comments »

Kepulauan Mentawai terkenal dengan keindahan pantainya. Ombaknya yang tinggi bisa dimanfaatkan untuk kegiatan selancar (surfing). Selancar merupakan ikon Kepulauan Mentawai yang telah dikenal di seluruh dunia. Beberapa kali telah digelar kompetisi surfing internasional di sini. Tidak kurang dari 400 " Spot Surfing" (titik selancar) yang dapat dijadikan lokasi berselancar.

Aktivitas selancar bisa dilakukan di beberapa pantai yang terdapat di Kepulauan Mentawai. Adapun pantai-pantai tersebut adalah : Pantai Nyangnyang, Pantai Karang Bajat, Pantai Karoniki dan Pantai Pananggelat Mainuk yang semuanya terletak di Kecamatan Siberut Selatan. Selain di Kecamatan Siberut Selatan, di Kecamatan Sipora juga terdapat beberapa pantai seperti Pantai Katiet Bosua dan Pantai Selatan. Sedangkan di Kecamatan Pagai Utara terdapat Pantai Barat.


Keistimewaan


Laut Mentawai mulai dari ombak hingga dasar lautnya memiliki kekayaan dan potensi yang fantastis. Gulungan ombak besar yang beberapa diantaranya masuk dalam kategori extreme menjadikan Mentawai sebagai salah satu objek wisata selancar yang digemari di dunia.

Olah raga selancar biasanya dilakukan pada bulan April sampai bulan Oktober. Mengingat pada bulan-bulan tersebut ombak di Kepulauan Mentawai mencapai titik puncaknya dan para peselancar bisa memanfaatkannya untuk kegiatan berselancar. Sedangkan pada bulan November sampai bulan Maret, ombak di Kepulauan Mentawai tidak begitu tinggi sehingga tidak cukup menantang untuk digunakan kegiatan berselancar.


Lokasi


Kegiatan berselancar ini berlokasi di 3 kecamatan, diantaranya adalah Kecamatan Siberut Selatan, Kecamatan Sipora dan Kecamatan Pagai Utara yang masuk dalam Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Indonesia.


Akses


Lokasi objek wisata selancar ini dapat dijangkau dengan kapal motor dan pesawat perintis. Jika menggunakan kapal, perjalanan ditempuh selama 14 jam dengan rute Padang-Sipora-Muara Siberut dengan biaya kira-kira antara Rp 200.000-Rp 300.000 per orang (Februari 2008).


Akomodasi dan Fasilitas Lainnya


Untuk memasuki Kepulauan Mentawai para wisatawan bisa menggunakan jasa pemandu atau menggunakan jasa operator tour. Untuk penginapan, di Kepulauan Mentawai tersedia penginapan di sepanjang pinggir pantai.

Source : Wisata Melayu

Read More......
Share/Save/Bookmark
Posted in | | 0 Comments »

Koto Gadang merupakan sebuah Kenagarian (desa) di Kabupaten Agam yang melahirkan banyak tokoh-tokoh nasional, mulai dari politikus, ilmuwan hingga sastrawan. Pernah pada suatu waktu mantan Presiden Soekarno datang ke Koto Gadang dan berujar, "Koto Gadang, kotanya kecil, tetapi hatinya gadang (besar)".

Koto Gadang terkenal dengan pusat kerajinan perak dan songket Minang. Bahkan sejak masa penjajahan Belanda, kerajianan perak dan songket Koto Gadang sudah berkembang dengan pesat. Ketika itu, hasil kerajinan Koto Gadang sering dibeli oleh istri para pejabat Belanda yang bertugas di Bukittinggi. Para istri tersebut membeli kerajinan utuk dipakai dan bahkan ada juga yang dibawa pulang ke negeri asal mereka sebagai oleh-oleh.

Saat ini, peminat hasil kerajinan Kota Gadang tidak hanya berasal dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga yang berasal dari luar negeri. Tentunya hal ini menjadi aset berharga daerah yang mesti dijaga dan diperhatikan agar pengunjung terus berdatangan.


Keistimewaan

Sejak tahun 1911 kerajinan perak dan songket Koto Gadang telah memiliki "brand image" yang dikenal di dunia dan selalu menjadi incaran wisatawan mancanegara yang berkunjung ke kota ini.

Motif kerajinan perak Koto Gadang dibuat dalam berbagai bentuk seperti perhiasan, aneka macam aksesori pakaian, aneka pajangan hingga miniatur rumah adat tradisional Minang. Perak Koto Gadang memiliki motif yang halus, warnanya tidak mengkilat, dengan kesan seperti doff dalam nuansa putih susu yang elegan. Ringan dan elok, bila dipadukan dengan songket Koto Gadang yang indah dan halus, cocok untuk menghadiri acara-acara resmi dan pesta.


Lokasi

Koto Gadang merupakan sebuah Nagari yang terletak di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia.


Akses

Untuk mencapai lokasi, para wisatawan dapat menempuh menggunakan jalur darat. Dari Kota Padang ke Bukittinggi, perjalanan dapat ditempuh selama lebih kurang 2 jam dengan menggunakan angkutan umum, dengan ongkos Rp 15.000-Rp 20.000 per orang (Februari 2008). Setelah sampai di Kota Bukittinggi, perjalanan bisa dilanjutkan dengan menggunakan angkutan pedesaan ke Kenagarian Koto Gadang yang berjarak lebih kurang 10 km dari Kota Bukittinggi. Untuk mengantisipasi supaya tidak berganti-ganti mobil, para wisatawan dianjurkan untuk menggunakan jasa travel, mobil pribadi atau mobil sewaan yang bisa langsung menuju lokasi objek wisata.


Akomodasi

Bagi para wisatawan dari luar kota yang ingin berlama-lama dapat menginap di hotel yang banyak terdapat di kota Bukittinggi. Di samping itu, di sepanjang jalan menuju Koto Gadang terdapat banyak rumah makan dan restoran yang menyajikan aneka masakan Padang.

Source : Wisata Melayu

Read More......
Share/Save/Bookmark
Posted in | | 0 Comments »

Masjid Raya Bayur merupakan salah satu masjid tua yang terdapat di sekitar Danau Maninjau (Kecamatan Tanjung Raya), Kabupaten Agam, Sumatera Barat yang dibangun pada awal abad ke 20. Lokasi masjid ini tidak begitu jauh dari jalan raya yang menghubungkan Kota Lubuk Basung (Ibu kota Kabupaten Agam) dengan Kota Bukittinggi.

Melihat kondisi bangunan dan leingkungan masjid yang kian tua dan tidak tertata bagus, pada awal tahun 2000 masyarakat setempat berupaya merenovasi masjid secara menyeluruh.

Renovasi yang dilakukan meliputi perbaikan bangunan masjid dan penataan lingkungan masjid seperti penataan ruang terbuka, area parkir dan taman masjid. Hal ini dilakukan sebagai upaya menciptakan lingkungan yang asri sehingga memberikan kenyamanan, ketenangan dan kesejukan bagi para tamu yang datang berkunjung ke masjid ini. Untuk menyukseskan renovasi tersebut, masyarakat terpaksa membongkar dua bangunan permanen yaitu gedung balerong (kantor pemerintahan Nagari Bayur) dan gedung sekolah dasar (SD) yang kemudian dipindahkan ke tempat lain.


Keistimewaan


Setelah direnovasi, bangunan masjid ini nampak indah dengan perpaduan gaya arsitektur pagoda yang ada di Thailand dan gonjong rumah gadang bangunan khas masyarakat Minangkabau. Perpaduan tersebut dapat dilihat pada menara kecil yang terletak pada empat sudut atap bangunan utama. Sementara struktur atap dirancang mengikuti pola bangunan rumah panggung dengan atap bersusun tiga yang juga menjidi ciri khas bangunan masjid Nusantara pada zaman dahulu kala.

Pada ruang dalam masjid terpampang ornamen yang menarik. Pada bagian dinding masjid, misalnya, dilapisi dengan papan berukir yang dicat dengan komposisi warna bernuansa gelap. Begitu juga dengan tiang-tiang penyangga masjid. Tiang-tiang yang terbuat dari tembok tersebut dihiasi dengan warna lembut yangs erasi dengan dinding masjid.

Pada bagian depan masjid atau tempat menginjakkan kaki memasuki area masjid, terdapat air mancur yang memancar tanpa henti. Sementara itu, pada bagian belakang ruangan masjid terdapat kolam ikan yang besar dengan penataan yang baik. Di samping kiri dan kanan kolam ikan tersebut terdapat tempat wudhu bagi para pengunjung yang ingin menunaikan ibadah sholat.

Tepat di sebelah utara lingkungan masjid ini terdapat sebuah pondok pesantren tua yang selalu siap mermaikan masjid ini dengan berbagai kegiatan keagamaan. Setiap hari masjid ini selalu dipakai untuk kegiatan belajar santri, seperti belajar ceramah, khotbah dan tata cara shalat jenazah. Kehadiran para santri tersebut turut menyemarakkan masjid ini sebagai sentra pengembangan ajaran Islam di Kenagarian Bayur.

Pesona lain yang dapat dinikmati di sekitar masjid ini adalah hamparan indah pemandangan panorama Danau Maninjau. Sembari berkunjung ke Masjid Raya Bayur, para pengunjung juga bisa menyempatkan diri melihat dari dekat keindahan Danau Maninjau atau menyaksikan aktivitas para nelayan dikala pagi dan sore hari. Para nelayan biasanya menangkap ikan atau mencari pensi (kerang air tawar) dengan memasang beberapa perangkap seperti jaring ikan dan jala. Selain itu, para wisatawan juga dapat melihat dari dekat para nelayan yang sedang beternak ikan di karamba.


Lokasi

Masjid Raya Bayur terletak di Kenagarian Bayur, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Prvinsi Sumatera Barat, Indonesia.


Akses


Untuk bisa mencapai Masjid Raya Bayur yang terletak di daerah Danau Maninjau tersebut, perjalanan dapat ditempuh dengan dua jalur alternatif yaitu dari arah barat dan timur dengan menggunakan angkutan umum (bus) atau mobil sewaan. Jika dari arah Barat, perjalanan dimulai dari Padang melewati Pariaman menuju Lubuk Basung (Ibu kota Kabupaten Agam) lalu ke lokasi dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam. Dari Timur, perjalanan dimulai dari Padang menuju Kota Bukittinggi dan dari Kota Bukittinggi perjalanan dilanjutkan ke Danau Maninjau melewati kelok 44 dengan waktu tempuh sekitar 3 jam.


Harga Tiket


Untuk masuk ke dalam masjid tidak dipungut biaya.


Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Masjid ini dilengkapi dengan beberapa fasilitas pendukung seperti tempat sandal dan sepatu, tempat wudhu laki-laki dan perempuan, serta areal parkir. Bagi para jamaah perempuan yang ingin sholat, tetapi tidak membawa kelengkapannya, di dalam masjid sudah tersedia beberapa sarung dan mukena yang diperuntukkan bagi para tamu yang datang dari luar daerah.

Source : Wisata Melayu

Read More......
Share/Save/Bookmark
Posted in | | 0 Comments »

Gunung Marapi yang juga dikenal sebagai Merapi atau Berapi memiliki ketinggian 2891,3 m dari permukaan air laut. Sebagai salah satu gunung paling aktif di Sumatera, Merapi sudah sering meletus. Terhitung sejak akhir abad 18 hingga 2008 tercatat kira-kira sudah 454 kali meletus, 50 diantaranya dalam skala besar, sedangkan sisanya dalam skala kecil dengan mengeluarkan abu belerang.


Keistimewaan

Diantara sekian banyak gunung yang ada di Sumatera Barat, Gunung Merapi merupakan objek wisata yang sering dikunjungi oleh para wisatawan. Gunung Merapi sudah memiliki jalur tetap untuk para pendaki, sehingga memudahkan para pendaki untuk melakukan pendakian. Di gunung ini terdapat bunga edelweiss yang tumbuh bermekaran di sekitar lereng gunung, menambah indahnya pemandangan Gunung Merapi.


Lokasi

Gunung Merapi berada dekat dengan Kota Bukittinggi, tepatnya di sekitar Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Indonesia.


Akses

Akses untuk mencapai Gunung Merapi cukup mudah, mengingat letaknya yang tidak jauh dari pusat Kota Bukittinggi dan Kota Padang Panjang. Dari Padang atau bandara Ketaping menuju Gunung Merapi butuh waktu sekitar 1 1/2 jam untuk sampai ke lokasi. Sedangkan jika bertolak dari Kota Bukittinggi memerlukan waktu sekitar 30 menit. Transportasi untuk mencapai lokasi dapat ditempuh melalui jalur darat, bisa menggunakan angkutan umum atau travel. Ongkos transportasi berkisar antara Rp 15.000 - Rp 20.000 per orang.


Akomodasi

Lokasi Gunung Merapi tidak begitu jauh dari Kota Bukittinggi dan Kota Padang Panjang. Mengingat Gunung Merapi dekat dengan 2 kota ini, para wisatawan dari luar kota yang ingin berlama-lama di kawasan tersebut, dapat menginap di hotel di dua kota itu. Di sepanjang jalan menuju Gunung Merapi, terdapat banyak restoran yang menyajikan aneka hidangan masakan Padang yang dapat mengobati rasa lapar para wisatawan.

Source : Wisata Melayu

Read More......
Share/Save/Bookmark
Posted in | | 0 Comments »

Danau Maninjau merupakan danau vulkanik, berada di ketinggian 461,50 meter di aats permukaan laut. Luasnya sekitar 99,5 km2 dan memiliki kedalaman maksimum 495 meter. Danau Maninjau terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia.

Legenda

Keberadaan Danau Maninjau menciptakan sebuah cerita legenda "Bujang Sembilan", yang dipercaya keberadaannya oleh masyarakat sekitar. Alkisah ada satu keluarga terdiri dari 10 orang, 9 orang laki-laki (bujang) dan seorang perempuan bernama Sani. Keelokan paras dan perilaku Sani menjadi daya pikat tersendiri bagi seorang pemuda bernama Sigiran. Singkat kata mereka kemudian menjalin asmara. Suatu hari mereka dituduh telah melakukan perbuatan amoral oleh para bujang. Untuk membuktikannya, mereka melompat ke kawah gunung Tinjau. Mereka bersumpah jikatidak melakukan tindakan amoral maka gunung ini akan meletus. Akhirnya gunung tersebut meletus dan hasil letusan kawah tersebut membentuk kawah besar yang kemudian diisi oleh air dan menjadi danau seperti sekarang.


Keistimewaan


Presiden pertama RI, Ir. Sukarno pada suatu ketika berkunjung ke Danau Maninjau dan takjub dengan keindahannya. Untuk mengungkapkan kekagumannya tersebut ia menulis sebuah pantun yang berbunyi "Jika makan arai Pinang, makanlah dengan sirih yang hijau, jangan datang ke Ranah Minang, kalau tak mampir ke Maninjau. Pantun yang ditulis oleh Presiden pertama RI ini cukup mewakili untuk menggambarkan keindahan panorama alam Danau Maninjau nan eksotis.

Danau ini tercatat sebagai danau terluas kesebelas di Indonesia. Sedangkan di Sumatera Barat, Maninjau merupakan danau terluas kedua setelah Danau Singkarak yang memiliki luas 129,69 km² yang berada di dua kabupaten yaitu Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok.

Danau Maninjau merupakan sumber air untuk sungai bernama Batang Antokan. Di salah satu bagian danau yang merupakan hulu dari Batang Antokan terdapat PLTA Maninjau. Puncak tertinggi diperbukitan sekitar Danau Maninjau dikenal dengan nama Puncak Lawang.


Lokasi


Danau Maninjau terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Danau ini terletak sekitar 140 kilometer sebelah utara Kota Padang, ibukota Sumatera Barat, 36 kilometer dari Bukittinggi, 27 kilometer dari Lubuk Basung, ibukota Kabupaten Agam.


Akses


Untuk bisa mencapai Danau Maninjau, perjalanan ditempuh melalui jalut darat. Ada 2 alternatif jalur untuk menuju ke Danau Maninjau. Pertama, memasuki jalur dari Barat dan kedua dari Timur. Dari Barat, perjalanan dimulai dari kota Padang melewati jalur Pariaman menuju Lubuk Basung (ibu kota Kabupaten Agam), lebih kurang ditempuh selama 1 1/2 jam. Untuk transportasi bisa menggunakan angkutan umum, travel, dan mobil sewaan. Dari Timur, perjalanan dimulai dari kota Padang menuju Bukittinggi kemudian perjalanan dilanjutkan ke Danau Maninjau melewati kelok 44 menggunakan angkutan umum, mobil pribadi, atau mobil sewaan. Waktu perjalanan ditempuh kurang lebih 3 jam.


Tiket

Untuk masuk objek wisata tidak dipungut biaya.


Akomodasi

Di sekitar Danau Maninjau banyak hotel yang bisa dijadikan untuk tempat menginap, mulai dari kelas berbintang sampai kelas melati. Di samping hotel, ada juga home stay yang dikelola oleh masyarakat, yang bisa dijadikan sebagai alternatif bagi para wisatawan untuk tempat menginap. Sedangkan untuk mengobati rasa lapar, para wisatawan bisa memilih tempat makan yang disukai karena banyak restoran-restoran yang tersedia di sepanjang pinggir danau dengan menyajikan berbagai menu baik aneka masakan Padang maupun masakan dari mancanegara.

Source : Wisata Melayu & Meiwentyr

Read More......
Share/Save/Bookmark
Posted in | | 0 Comments »